Kamis, 13 Februari 2014

Filum Porifera (Hewan Berpori-Pori)



Sebelum membaca materi kali ini, saya sarankan terlebih dahulu untuk membaca postingan sebelumnya yang berjudul Kingdom Animalia. Porifera berasal dari Bahasa Latin yaitu porus yang berarti lubang kecil atau pori-pori, serta ferre yang berarti mengandung. Jadi, Porifera dapat diartikan sebagai hewan yang di dalam tubuhnya terdapat lubang-lubang kecil atau berpori-pori.

Porifera adalah hewan yang memiliki tubuh yang cukup sederhana, hewan ini biasanya hanya memiliki ukuran tubuh sekitar 1-2 cm. Selain memiliki pori-pori mikroskopis pada tubuhnya, porifera juga memiliki ciri khusus berupa sistem kanal atau sistem saluran air yang berfungsi sebagai tempat bersirkulasinya air di dalam tubuhnya.

A. Ciri-Ciri Porifera

  1. Merupakan hewan multiseluller (bersel banyak).
  2. Belum mempunyai organ pencernaan, sistem peredaran darah , sistem saraf, dan otot; namun sel-sel tubuhnya dapat mengindra dan bereaksi terhadap perubahan lingkungan.
  3. Mempunyai dua fase kehidupan, yaitu saat hidup berenang bebas (fase larva) dan saat berbentuk sesil yang hidup menetap di dasar perairan (fase dewasa).
  4. Merupakan hewan diploblastik yang memiliki dua lapis sel pembentuk tubuh, yaitu ektoderma (lapisan luar dan endoderma (lapisan dalam).
  5. Bentuk tubuh hewan ini ada yang seperti piala, jambangan, terompet, dan bercabang-cabang seperti tumbuhan.
  6. Habitat utama di perairan (terutama di laut).
gambar porifera

B. Struktur Tubuh Porifera

Pada bagian tengah tubuh porifera, terdapat spongosol (paragaster). Spongosol adalah ruangan yang berfungsi sebagai saluran air. Pada bagian atas spongosol terdapat oskulum, yitu lubang besar yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air.

Dari luar ke dalam, porifera tersusun atas tiga lapisan dinding tubuh, yaitu epidermis (lapisan terluar), mesoglea (lapisan pembatas), dan endodermis (lapisan dalam).

  1. Epidermis, adalah lapisan terluar tubuh porifera. Lapisan ini tersusun oleh sel-sel epitelium pipih yang disebut dengan pinakosit. Beberapa sel ini membentuk lubang kecil (ostium) tempat masuknya air . Pada ostium, terdapat porosit yang berfungsi untuk mengendalikan buka atau tutupnya ostium.
  2. Mesoglea, adalah lapisan yang berupa gelatin. Lapisan ini merupakan pembatas antara lapisan dalam (endodermis) dengan lapisan luar (epidermis). Mesoglea mengandung dua macam sel, yaitu sel ameboid dan skleroblas. Sel-sel ameboid berfungsi sebagai pengangkut makanan dan zat-zat sisa metabolisme dari satu sel ke sel yang lainnya. Sedangkan sel skleroblas berfungsi untuk membentuk spikula. Spikula merupakan duri-duri berfungsi sebagai penguat dinding yang lunak.
  3. Endodermis, adalah lapisan dalam tubuh porifera. Lapisan ini terdiri dari sel-sel leher (koanosit) yang memiliki flagela dan berfungsi untuk mencerna makanan.
C. Sistem Pencernaan Porifera

Proses pencernaan pada porifera berlangsung pada bagian endodermis. Pada bagian ini, flagel yang terdapat pada koanosit akan bergerak-gerak sehingga menyebabkan air yang membawa oksigen dan makanan berupa plankton akan mengalir dari ostium masuk masuk ke spongosol lalu masuk ke oskulum. Makanan ini lalu akan dicerna di dalam vakuola makanan. Setelah dicerna, sari-sari makanan diangkut oleh sel-sel amebosit untuk diedarkan keseluruh tubuh. Sedangkan sisa-sisa makanan yang sudah tak terpakai lagi akan dikeluarkan oleh sel-sel leher (koanosit) melalui spongosol sebelum akhirnya keluar dari tubuh melalui oskulum.

D. Sistem Reproduksi Porifera

Pada hewan porifera, reproduksi dapat berlangsung melalui dua cara, yaitu reproduksi secara seksual dan aseksual.

  1. Reproduksi secara seksual, yaitu reproduksi yang terjadi saat sel sperma bersatu dengan sel ovum. Pada dasarnya, porifera bersifat hemafrodit karena ovum dan sperma dapat dihasilkan oleh satu individu yang sama. Namun sperma tidak akan dapat membuahi sendiri ovum yang terdapat dalam tubuhnya sendiri, sehingga pembuahan hanya akan dapat terjadi antara sperma dan sel telur antar individu yang berbeda.
  2. Reproduksi secara aseksual, yaitu reproduksi yang terjadi tanpa proses pembuahan sperma pada ovum. Reproduksi aseksual pada hewan porifera dapat terjadi melalui dua cara, yaitu dengan cara pembentukan kuncup dan gemula (kuncup dalam). Gemula adalah butir benih yang diproduksi oleh porifera di lingkungan yang tak menguntungkan, misalnya terlalu dingin atau terlalu panas.
E. Sistem Sirkulasi Air Porifera

Sistem kanal atau saluran air pada porifera dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu ascon, sycon, dan leucon.

  1. Ascon, adalah tipe sistem saluran air dimana lubang-lubang ostiumnya langsung terhubung lurus ke spongosol.
  2. Sycon, pada tipe saluran ini air akan masuk ke dalam ostium lalu melewati saluran-saluran bercabang sebelum masuk ke dalam spongosol. Saluran bercabang ini biasanya dilapisi oleh koanosit.
  3. Leucon, adalah tipe saluran air yang ostiumnya dihubungkan dengan rongga-rongga bercabang yang tidak terhubung langsung menuju spongosol.
saluran air, ascon, leucon,sycon
Jenis-jenis saluran air porifera
(arahkan kursor ke gambar untuk memperbesar)

F. Klasifikasi Porifera

Terdapat tiga kelas yang dapat diklasifikasikan ke dalam filum porifera, yaitu kelas Calcarea, Hexactinellida, dan Demospongiae.

  1. Calcarea, merupakan kelas porifera yang memiliki spikula dari zat kapur. Contoh spesies calcarea antara lain Sycon sp. dan Clathrinasp yang biasa hidup di daerah laut dangkal.
  2. Hexactinellida, memiliki spikula yang tersusun atas zat kersik (silikat). Contoh spesies dari kelas  hexactinellida antara lain Pheronema sp. dan Euplectella sp. yang hidup di laut dalam.
  3. Demospongiae, merupakan porifera bertulang lunak dengan spikula yang tersusun dari zat kersik. Contoh spesies dari kelas  demospongiae antara lain Euspongia sp., Spongila sp., dan Callyspongia sp.
G. Peranan Porifera Bagi Manusia

Tubuh porifera biasanya dimanfaatkan manusia sebagai alat penggosok badan atau perabotan. Selain itu porifera juga banyak digunakan sebagai hisan akuarium. Porifera kadang juga merugikan bagi manusia karena hidup melekat pada kulit tiram, sehingga kualitas tiram yang dihasilkan oleh peternakan akan berkurang.

Kingdom Animalia (Dunia Hewan)

Kingdom animalia adalah salah satu kingdom yang memiliki anggota yang paling banyak dan bervariasi. Secara garis besar kingdom animalia dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu golongan vertebrata (hewan bertulang belakang) dan golongan invertebrata (hewan tak bertulang belakang. Dan berikut akan dijelaskan mengenai ciri-ciri, struktur lapisan tubuh, dan klasifikasi dari kingdom animalia.

peta konsep, kingdom animalia

Peta konsep kingdom animalia
(klik gambar untuk memperbesar)

A. Ciri-ciri Kingdom Animalia

Anggota kingdom animalia memiliki ciri-ciri yang yang membedakannya dengan kingdom-kingdom lain, seperti:

  1. Hewan merupakan organisme eukariotik multiseluler.
  2. Bersifat heterotrofik, berbeda dengan tumbuhan yang bisa memproduksi makanan sendiri lewat fotosintesis (autotrof), hewan tidak bisa memproduksi makanan sendiri sehingga akan memakan bahan organik yang sudah jadi.
  3. Tidak memiliki dinding sel, komponen terbesar sel hewan tersusun atas protein struktural kolagen.
  4. Memiliki jaringan saraf dan jaringan otot sehingga bisa aktif bergerak (bersifat motil).
  5. Sebagian besar bereproduksi secara seksual.
  6. Siklus hidup didominasi oleh bentuk diploid (2n).
B. Struktur Tubuh Animalia

Dalam klasifikasi kingdom animalia, paling tidak ada dua ciri yang membedakan struktur tubuh suatu hewan. Dua ciri tersebut antara lain berdasarkan simetri tubuh dan lapisan tubuh.

1. Simetri tubuh

Berdasarkan simetri tubuhnya, hewan dapat dibedakan menjadi hewan yang memiliki simetri tubuh bilateral dan hewan yang memiliki simetri tubuh radial.

  • Simetri Bilateral, adalah hewan yang bagian tubuhnya tersusun bersebelahan dengan bagian lainnya. Jika diambil garis memotong dari depan ke belakang, maka akan terlihat bagian tubuh tubuh yang sama antara kiri dan kanan. Hewan yang bersimetri bilateral selain memiliki sisi puncak (oral) dan sisi dasar (aboral), juga memiliki sisi atas (dorsal) dan sisi bawah (ventral), sisi kepala (anterior) dan sisi ekor (posterior), serta sisi samping (lateral).

  • Simetri Radial, adalah hewan yang memiliki lapisan tubuh melingkar (bulat). Hewan dengan simetri radial hanya memiliki dua bagian, yaitu bagian puncak (oral) dan bagian dasar (aboral). Hewan yang bersimetri radial disebut sebagai radiata, hewan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain porifera, cnidaria, dan echinodermata.
simetri radial, bilateral

2. Lapisan Tubuh

Dalam perkembangannya menjadi individu dewasa, hewan akan membentuk lapisan tubuh. Berdasarkan jumlah lapisan tubuhnya, hawan dikelompokkan menjadi diploblastik dan tripoblastik.

  • Hewan Diploblastik, adalah hewan yang memiliki dua lapis sel tubuh. Lapisan terluar disebut dengan ektoderma, sedangkan lapisan dalam disebut dengan endoderma. Contoh dari hewan diploblastik adalah cnidaria.

  • Hewan Triploblastik, adalah hewan yang memiliki tiga lapis sel tubuh. Lapisan terluar disebut eksoderma, lapisan tengah disebut mesoderma, dan lapisan dalam disebut endoderma. Ektoderma akan berkembang menjadi epidermis dan sistem saraf, mesoderma akan berkembang menjadi kelenjar pencernaan dan usus, sedangkan endoderma akan berkembang menjadi jaringan otot.
3. Rongga Tubuh (selom)

Hewan triploblastik masih dapat diklasifikasikan lagi berdasarkan rongga tubuh (selom) yang dimilikinya. Rongga tubuh pada hewan sendiri dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu aselomata, pseudoselomata, dan selomata.

  • Aselomata, adalah hewan bertubuh padat yang tidak memiliki rongga antara usus dengan tubuh terluar. Hewan yang termasuk aselomata adalah cacing pipih (Platyhelmintes).

  • Pseudoselomata, adalah hewan yang memiliki rongga dalam saluran tubuh (pseudoselom). Rongga tersebut berisi cairan yang memisahkan alat pencernaan dan dinding tubuh terluar. Rongga tersebut tidak dibatasi jaringan yang berasal dari mesoderma. Hewan yang termasuk pseudoselomata adalah Rotifera dan Nematoda.

  • Selomata, adalah hewan berongga tubuh yang berisi cairan dan mempunyai batas yang berasal dari jaringan mesoderma. Lapisan dalam dan luar dari jaringan hewan ini mengelilingi rongga dan menghubungkan dorsal dengan ventral membentuk mesenteron. Mesenteron berfungsi sebagai penggantung organ dalam. Selomata sendiri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu protoselomata dan deutroselomata. Contoh hewan yang termasuk protoselomata antara lain Mollusca, Annelida, dan Arthropoda. Sedangkan hewan yang termasuk dalam deutroselomata antara lain Echinodermata dan Chordata.
C. Klasifikasi Kingdom Animalia

Anggota kingdom animalia diklasifikasikan menjadi sembilan filum, antara lain:

1. Porifera (hewan berpori).
2. Cnidaria (hewan berongga).
3. Platyhelmintes (cacing pipih).
4. Nemathelmintes (cacing gilig).
5. Annelida (cacing bersegmen).
6. Mollusca (hewan bertubuh lunak).
7. Arthropoda (hewan berbuku).
8. Echinodhermata (hewan berkulit duri).
9. Chordata (hewan bertulang).

Alga / Ganggang

Alga bukan nama takson dan tidak masuk dalam kingdom plantae. Alga masuk dalam kingdom protista, karena mempunyai ciri-ciri tubuh tersusun dari satu atau banyak sel, yang tidak berdiferensiasi membentuk jaringan khusus.
Ciri Tubuh
Alga memiliki ukuran beraneka ragam, ada yang mikroskopis (tidak dapat dilihat dengan mata telanjang) dan ada yang makroskopis (dapat dilihat dengan mata telanjang). Alga mikroskopis ada yang berukuran 25 µm (contohnya Navicula), alga makroskopis ada yang berukuran 50 m (contohnya Macrocystis).
Alga terdiri dari alga uniseluler (bersel satu) dan multiseluler (bersel banyak). Alga uniseluler ada yang soliter (hidup sendiri) (contohnya Chlorella), dan berkoloni (bergerombol), (contohnya Gonium: berbentuk cakram, Volvox: berbentuk bola dan Hydrodictyon: berbentuk jala). Beberapa alga uniseluler memiliki flagelum (bulu cambuk) yang berfungsi untuk pergerakan. Umumnya flagelum berjumlah dua sampai empat yang terdapat pada salah satu ujung selnya. Alga multiseluler ada yang berbentuk benang atau filamen (contohnya Oedogonium dan Spirogyra), dan lembaran (contohnya Laminaria, Ulva, dan Macrocystis). Alga berbentuk lembaran memiliki bentuk yang sederhana sehingga tidak dapat dibedakan antara akar, batang, dan daun. Struktur yang tidak dapat dibedakan antara akar, batang, dan daun disebut talus.
Struktur Tubuh
Sel Alga memiliki kloroplas. Bentuk kloroplas ganggang bervariasi, ada yang bulat, seperti mangkuk, sabuk, cakram / diskoid, jala dan spiral. Pigmen dalam kloroplas berfungsi untuk menyerap energi cahaya matahari yang berguna untuk proses fotosintesis. Pigmen utama fotosintesis adalah klorofil (pigmen hijau). Pigmen klorofil dapat berupa klorofil a, klorofil b, klorofil c, atau klorofil d. Sedangkan pigmen tambahan pada alga adalah karoten dan fikobilin. Pigmen karoten dapat berupa santofil (keemasan) atau fukosantin (cokelat). Pigmen fikobilin dapat berupa fikosianin (biru) atau fikoeritrin (merah).
Alga memiliki suatu pirenoid dalam kloroplas yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Cadangan makanan dapat berupa amilum dan minyak (pada Chlorophyta), leukosin dan minyak (pada Chysophyta), laminarin (pada Phaeophyta), atau tepung florid (pada Rhodophyta).
Cara Hidup
Alga mampu melakukan fotosintesis. Pada alaga berbentuk talus, penyerapan air dan mineral serta proses fotosintesis dilakukan oleh sel-sel seluruh tubuhnya. Kemampuan alga untuk melakukan fotosintesis menjadikan alga tergolong organisme fotoautotrof.
Habitat
Umumnya alga hidup bebas pada habitat yang berair maupun mengandung air (lembab) seperti genangan air, kolam, danau, sungai, rawa, laut, tanah, batu atau pohon. Di habitatnya alga berperan sebagai produsen yang menyediakan makanan dan oksigen bagi organisme heterotrof.
Reproduksi
Alga melakukan reproduksi secara aseksual (vegetatif) dan seksual (generatif). Pada beberapa jenis alga terutama yang berbentuk talus, dalam siklus hidupnya terjadi metagenesis (pergiliran keturunan). Metagenesis terjadi antara generasi penghasil spora (sporofit/vegetatif) dan generasi penghasil gamet (gametofit/generatif). Contoh: Ulva dan Chlamidomonas.
1.      Reproduksi aseksual
a.       Pembelahan biner
Pembelahan biner hanya terjadi pada alga uniseluler. Pada pembelahan biner, sel induk alga membelah menjadi dua bagian yang sama kemudian tumbuh menjadi ganggang baru. Contoh: Chlorella dan Euglena.
b.      Fragmentasi
Fragmentasi terjadi pada laga multiseluler berbentuk filamen dan talus. Pada fragmentasi, filamen atau talus yang putus dapat tumbuh menjadi alga baru. Contoh: Spirogyra, Laminaria dan Sargassum.
c.       Pembentukan spora
Pembentukan spora terjadi pada laga uniseluler maupun multiseluler. Spora dihasilkan dengan cara pembelahan dinding sel induk. Spora akan keluar setelah dinding sel induk pecah dan kemudian tumbuh menjadi alga baru yang haploid. Contoh: Chlamydomonas dan Ulothrix.
2.      Reproduksi seksual
Reproduksi seksual pada laga terjadi dengan penyatuan dua gamet yang berbeda jenis. Gamet mengandung kromosom yang tak berpasangan (haploid = n). Penyatuan gamet terjadi dengan perantara air. Penyatuan dua gamet berbeda jenis akan menghasilkan zigot. Zigot memiliki kromosom berpasangan (diploid = 2n).
Pada alga berbentuk talus, zigot tumbuh menjadi alga baru yang diploid. Alga diploid itu disebut sporofit. Pada alga uniseluler dan alga berbentuk filamen, zigot membentuk zigospora yang berdinding tebal. Zigospora kemudian membelah menghasilkan empat sel anakan haploid berflagelum yang disebut zoospora. Jika dinding zigospora hancur, zoospora lepas dan selanjutnya tumbuh menjadi sel alga baru yang haploid. Sel alga baru hasil reproduksi seksual disebut sel vegetatif.
Pada alga uniseluler dan alaga berbenruk filamen, tahap diploid hanya ada pada zigot. Pada alga uniseluler, sel alganya dapat berperan sebagai gamet. Pada alga berbentuk benang, setiap sel pada benangyang berbeda jenis dapat berperan sebagai gamet. Pada alga berbentuk talus, gamet dihasilkan oleh alat perkembangbiakan (gametangium). Alat perkembangbiakan terdapat pada jenis alga penghasil gamet (gametofit/alga generatif). Alat perkembangbiakan yang menghasilkan gamet betina (sel telur/ovum) disebut oogonium. Sedangkan alat perkembangbiakan yang menghasilkan gamet jantan (spermatozoid) disebut anteridium. Contoh: Chlamydomonas.
Klasifikasi
Berdasarkan pada pigmen dominan, komponen penyusn dinding sel, jumlah dan posisi flagelum, serta bentuk cadangan makanan, alga dibedakan menjadi enam, yaitu:
1.      Euglenophyta / Euglenoid
Euglenoid (Yunani, eu : Sejati; glena :  mata). Mempunyai ciri-ciri mirip hewan dan tumbuhan. Dianggap mirip hewan karena selnya tidak berdinding, bergerak bebas dengan flagela (cambuk) yang muncul dari mulutnya, dan memiliki bintik mata berbentuk piringan yang berisi fotoreseptor yang ditutupi oleh lapisan pigmen merah (fikobilin) yang terletak di dekat mulut sel yang berfungsi untuk membedakan antara gelap dan terang. Mirip tumbuhan karena memiliki klorofil a, b dan karoten untuk berfotosintesis.
Euglenoid merupakan organisme uniseluler yang tidak memiliki dinding sel. Namun, sel Euglenoid dibungkus oleh suatu protein yang disebut pelikel. Pelikel bersifat lentur sehingga memungkinkan perubahan bentuk sel. Walau demikian, umumnya Euglenoid berbentuk seperti botol.
Umumnya Euglenoid dapat membuat makanan sendiri dengan melakukan fotosintesis. Namun ada juga Euglenoid yang bersifat heterotrof. Euglenoid yang berfotosintesis memiliki kloroplas yang mengandung klorofil a dan b, serta karoten. Hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk cadangan makanan paramilon (sejenis zat pati).
Reproduksi Euglenoid dilakukan dengan cara pembelahan biner. Dari pembelahan ini akan dihasilkan dua sel anak. Setiap sel anak mempunyai inti sel, membran sel, dan sitoplasma.
Euglenoid Hidup di air tawar, di dalam tanah dan tempat lembab.
Contoh: Euglena viridis
Euglena viridis

2.      Chlorophyta (Alga Hijau)
Chlorophyta (Yunani, chloros : hijau). Tubuhnya mengandung klorofil dan berwarna hijau. Sel mengandung kloroplas yang berisi klorofil a, b, karoten dan xantofil.
Chlorophyta ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuh yang uniseluler seperti benang, lembaran, berkoloni dan seperti tumbuhan tinggi. Chlorophyta unseluler ada yang memiliki flagelum sehingga dapat bergerak. Chlorophyta memiliki dinding sel yang tersusun dari selulosa dengan cadangan makanan berupa amilum.
Reproduksi Chlorophyta dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu seksual dan aseksual. Reproduksi seksual dilakukan dengan cara isogami, anisogami, atau oogami. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembelahan biner (alga bersel satu), fragmentasi (alga berbentuk benang dan berkoloni), serta pembentukan zoospora (spora kembar)
Cara hidup dengan autotrof dan bersimbiosis dengan jamur membentuk lumut kerak. Hidup melayang-layang di air tawar (90%) atau air laut (10%).
Contoh:
a.       Chlorophyta bersel tunggal tidak bergerak: Chlorella, Chlorococcum.
b.      Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak: Chlamydomonas.
c.       Chlorophyta berbentuk koloni tidak bergerak: Hydrodiction.
d.      Chlorophyta berbentuk koloni dapat bergerak: Volvox globator.
e.       Chlorophyta berbentuk benang: Spirogyra, Oedogonium.
f.       Chlorophyta berbentuk lembaran: Ulva lactuva, Chara.
 Spirogyra

3.      Chrysophyta (Alga Keemasan/pirang)
Chrysophyta (Yunani, chrysos : emas).
Terdiri atas alga yang uniseluler atau multiseluler. Dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.       Xanthophyceae (alga hijau-kuning)
Pigmen yang dimiliki yaitu klorofil (hijau) dan xantofil (kuning). Reproduksi aseksual membentuk zoospora, reproduksi seksual dengan fertilisasi. Contoh: Vaucheria sp
b.      Chrysopyceae (alga coklat-keemasan)
Pigmen yang dimiliki yaitu klorofil (hijau) dan karoten (keemasan), hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk karbohidrat dan minyak. Tubuhnya ada yang uniseluler, contohnya: Ochromonas. Sedang ada pula yang multiseluler, contohnya: Synura.
c.       Bacillariophyceae (diatom)
Banyak dijumpai di atas permukaan tanah basah, tubuhnya ada yang uniseluler dan berkoloni. Dinding tersusun atas dua belahan yaitu kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka). Contoh: Navicula, Pinnularia, Cyclofella.

4.      Phaeophyta (Alga Coklat)
Phaeophyta (Yunani, phaios : cokelat). Ganggang cokelat berwarna cokelat karena selain mengandung klorofil juga memiliki fukosantin (zat warna cokelat). Pigmen yang terdapat pada Phaeophyta yaitu fikosantin, klorofil a, klorofil c, violaxantin, b-karotin, diadinoxantin.
Mempunyai tubuh yang multiseluler. Berbentuk seperti lembaran atau tumbuhan tinggi (memiliki alat seperti akar, batang, dan daun), tubuhnya melekat di bebatuan, sedangkan talusnya terapung di permukaan.
Cadangan makanan berupa laminarin yang disimpan dalam pirenoid, ruang antar sel pada dinding selnya mengandung asam alginat (algin) dan pektin.
Reproduksi aseksual dengan cara zoospora berflagel dan fragmentasi. Reproduksi seksual dengan cara isogami, anisogami, dan oogami. Phaeophyta mengalami pergiliran keturunan antara generasi gametofit dan generasi sporofit.
Sebagian besar hidup di air laut, daerah sekitar pantai, atau daerah pasang surut. Sering digunakan sebagai bahan pakan ternak, obat-obatan, dan bahan cat.
Contoh: Sargassum muticum (gulma laut), Fucus serratus, Macrocystis pyrifera (alga raksasa), Turbinaria decurrens, Laminaria, Turbinaria, Fucus vesiculosus, Macrocystis, Nereocystis, Hormosira.

5.      Pyrrophyta / Dinoflagellata (Alga Api)
Pigmen yang terdapat pada Pyrrophyta yaitu klorofil a dan c, santofil, dinosantin, dan fikobilin.
Tubuhnya tersusun atas satu sel (uniseluler). Mempunyai dinding sel nyata yang terdiri atas lempengan-lempengan yang mengandung selulose, tetapi ada beberapa yang tidak berdinding sel, misalnya Gymnodinium.
Pyrrophyta dapat bergerak aktif, umumnya memiliki dua flagelum yang terletak di samping (lateral) atau di ujung (apikal) selnya.
Pyrrophyta beproduksi secara aseksual dengan pembelahan biner. Habitat di laut bersifat fosforesensi (memancarkan cahaya).
Contohnya: Peridium, Gymnodinium breve, Gambierdiscus toxicus, Gonyaulax, Noctiluca scintillans.
Noctiluca

6.      Rhodophyta (Alga Kemerahan)
Rhodophyta (Yunani, rhodos : merah). Memiliki pigmen dominan fikobilin jenis fikoeritrin (merah). klorofil a, d, karoten, fikosisnin (biru), sehingga Rhodophyta ada yang berwarna ungu merah kehitaman.
Sebagian besar Rhodophyta multiseluler, berbentuk benag dan lembaran. Alga jenis ini berukuran kurang dari satu meter dengan struktur lebih halus daripada Phaeophyta. Dinding sel Rhodophyta mengandung selulosa dan pektin. Cadangan makanannya berupa tepung florid.
Rhodophyta bereproduksi secara aseksual membentuk tetraspora. Sedangkan reproduksi secara seksual dengan oogami. Daur hidup alga merah mengalami pergiliran keturunan antara gametofit dan sporofit.
Habitat sebagian besar di laut dalam (rumput laut) dan sebagian kecil di air tawar. Pada laut tropis ada yang hidup pada kedalaman 200 m. Banyak dimanfaatkan manusia untuk bahan makanan agar-agar.
Contoh: Batrachospermum moniliforme, Scinaia furcellata, Eucheuma spinosum, Gelidium robustum, Chondrus crispus, Gigartina mammilosa, Gracillaria verrucosa, Corallina mediterranea, Palmaria palmata, Polysiphonia sp.

Peranan Alga
Manfaat Alga Bagi Kehidupan Manusia:
1.      Chlorella, sebagai sumber makanan suplemen bergizi tinggi.
2.      Ulva, Caulerva dan Enteromorpha, sebagai sumber makanan berupa sayur.
3.      Ganggang merah misalnya Eucheuma dan Gelidium, sebagai penghasil gelatin yang digunakan antara lain untuk pembuatan agar-agar dan untuk campuran pembuatan kue kering.
4.      Ganggang keemasan misalnya diatom, sisa-sisanya yang membentuk tanah diatom digunakan sebagai bahan peledak, campuran semen, bahan penggosok, bahan isolasi, dan pembuatan saringan.
5.      Laminaria lavaniea, sebagai pupuk pertanian dan makanan ternak di daerah pesisir karena mengandung kalium.
6.      Laminaria digitalis, sebagai penghasil yodium untuk obat penyakit gondok.
7.      Macrocystis dan Laminaria, sebagai penghasil asam alginat yang digunakan untuk bahan pengental pada industri makanan, misalnya dalam pembuatan es krim, atau bahan pelekat pada industri plastik, kosmetik, dan tekstil.
8.      Bahan dasar makanan : Gelidium (agar-agar), Chondrus (minuman coklat), Alginat (bahan campuran es krim), Porphyra (makanan).